Saturday, December 6, 2014

Bellona

Aku masih sibuk mengorek-ngorek saku celana, beranggapan ada korek api di dalamnya. Sebatang rokok yang belum terbakar menancap di kedua bibirku. Ujung rokok itu sudah lunak dan basah. Aku tidak merasakan lagi manisnya.

            Karena sudah menyerah, aku putuskan masuk ke dalam rumah. Aku tidak mempunyai ide mencari korek itu di dalam lemari atau di atas kulkas. Hanya dapur yang kuyakini memiliki api.
            Di dapur aku menemukan kompor kosong. Aku mendekat, lalu mendekatkan ujung rokokku di tempat yang biasanya mengeluarkan api. Tangan kananku memutar pedal kompor. Seketika rokokku terbakar. Lalu aku cepat-cepat keluar, karena di rumah ini tidak boleh ada asap rokok. Itu peraturannya. Aku juga tidak tahu siapa yang membuatnya. Yang jelas jika ketahuan aku merokok di dalam rumah, aku bakal kena denda.
            Di luar, aku duduk di bangku panjang yang menghadap ke taman. Di taman itu tumbuh bunga berwarna-warni. Aku tidak tahu pasti bunga apa saja yang tumbuh disana. Tapi jika ada bunga berwarna merah, aku hanya meyakini itu adalah bunga mawar.
            Kopi yang hanya tinggal setengah di sebelahku seakan-akan menyempurnakan ketenangan malam itu. Ditambah lagi langit yang cerah penuh bintang-bintang.
            Ketika sedang menyeruput kopi, aku mendengar ada suara yang memanggilku dari dalam rumah. Suara itu tidak asing. Suara itu adalah suara Bellona. Ya, itu adalah suara Bellona. Kuarahkan pandangan menatap ke pintu.
Tidak lama setelah itu, Bellona keluar dengan pakaian serba bergelombang. Bellona memakai gaun Flamingo. Baju itu berwarna merah padam dengan rok yang memiliki gelombang seperti gulungan ombak di Mentawai.
            “Serpertinya ia ingin menari,” bisikku dalam hati.
            Kuseduh kopi hingga habis, lalu segera mendekatinya.
            “Ada apa Bellona?”
            “Ada yang memintaku untuk menari di taman kota,ia mengucapkan kalimat itu dengan terus tersenyum, sepertinya ia sangat gembira dengan permintaan itu.
            “Lalu, apa yang harus saya lakukan?” tanyaku dengan sedikit senyum di akhir kalimat.
            “Panaskan mobil, kita pergi sekarang.”
            “Baiklah, Bellona,aku akhiri dialog ini dengan senyum. Lalu segera menuju garasi mobil.
            Dari dalam garasi aku masuk ke dalam mobil dan menghidupkannya. Tidak begitu lama.  Aku langsung mengeluarkan mobil dan mengendarainya menuju tempat Bellona berdiri. Ketika lampu mobil mengenai wajahnya, tampak Bellona tersenyum panjang sambil memandang mobil yang kukendarai.
            “Silahkan masuk Bellona.” Aku tetap berada di kursi sopir ketika mempersilahkannya.
            Dengan cepat Bellona membuka pintu belakang dan langsung masuk menghempaskan pantatnya, kemudian dengan cepat pula menutup kembali pintunya.          
 “Jadi kita ke taman kota Bellona?” ucapku memastikan tujuan pergi.
Dari kaca spion aku melihat Bellona hanya mengangguk-angkuk dengan senyumnya yang tak hilang dari tadi. Kami kemudian beranjak pergi keluar dari halaman rumah menuju jalan raya.
Taman kota cukup jauh dari sini. Apalagi dengan mobil, pastinya sering terjebak macet. Di kota ini mobil begitu banyak. Jalanan dipenuhi asap-asap. Bukan hanya asap kendaraan saja. Asap kuali tukang bakso. Asap pedagang sate. Asap dari pembakaran sampah yang menyebar. Dan asap rokok.
Kami baru memasuki jalan raya, namun macet sudah menghadang. Sembari menunggu macet, kuraba saku celana untuk mengetahui di mana letak kotak rokok tadi. Setelah kotak rokok itu kukeluarkan, kuambil satu batang dan mengapitnya dengan kedua bibir. Kumasukkan lagi kotak rokok itu, kemudian tanganku menekan tombol di antara rak sebelah kiri stir, yang bergambarkan ilustrasi sebatang rokok dengan asapnya.
Beberapa saat kemudian, tombol itu berbunyi. Kutarik tombol itu keluar dan ujungnya yang berwarna merah kudekatkan ke ujung rokokku.
Hembusan pertama kuarahkan keluar jendela. Kemudian rokok itu kuhisap lagi sambil melihat kaca spion. Di dalam kaca spion, aku melihat Bellona sedang menggerakkan kedua pergelangan tangannya seperti sedang menari. Kepalanya juga ikut digerakkan sesuai tempo gerakkan pergelangan tangannya. Sedangkan pandangannya lurus ke bawah.
“Sepertinya ia sudah tidak sabar untuk menari,” ucapku dalam hati.
Lima belas menit kemudian jalanan mulai lancar–walau hanya bisa memacu mobil dengan kecepatan lambat.
***
Akhirnya mobilku berhenti tepat di depan sebuah taman.
“Kita sudah sampai Bellona.”
Bellona langsung membuka gagang pintu. Namun tidak bisa terbuka, karena mobil ini memiliki kepala kunci, yang kepala kunci tersebut berada di kunci milik pintuku. Jika kunciku tidak terbuka, kunci yang lain pun tidak akan terbuka.
“Roby, cepat buka!”
Aku segera membuka kunci milik pintuku dan Bellona dengan cepat keluar dan langsung menuju taman.
            Aku hanya bisa melihatnya dari dalam mobil. Bellona langsung menggerakkan tubuhnya,  dan tariannya pun dimulai. Lekuk tubuh Bellona lentur sekali. Ini tidak kali pertama aku melihatnya menari. Namun aku tetap tidak bosan-bosan melihatnya menari.
            Aku memperhatikan setiap gerakkan tubuhnya. Rambutnya. Dan senyumnya. Itu semua membuatku terlena.
            Kuraba lagi saku untuk mengambil rokok lalu membakarnya. Tenggorokkanku terasa kering. Kuhidupkan lampu di langit-langit mobil agar bisa melihat tempat-tempat yang mungkin bisa meletakkan botol minuman. Tanganku meraba rak di depan kursi yang berada di sampingku.  Itu membuat tubuhku harus merebah untuk membukanya. Dari dalam rak itu aku mendapati botol berisi setengah air. Dinding botol itu ada uap air yang sudah memutih. Aku meminumnya. Rasa air di botol itu sedikit pahit.
            Di luar, aku masih melihat Bellona menari. Bellona menari penuh semangat. Ia tidak kenal lelah. Gerakkan Bellona semakin mempesona. Semakin cepat. Rambutnya mulai basah oleh keringat. Ada beberapa helai rambut yang menempel di pipinya. Itu membuat Bellona begitu eksotis di mataku.
              Kulipat kedua tanganku di besi jendela mobil untuk menahan dagu. Ini adalah posisi yang nyaman untuk melihat Bellona yang sedang menari. Aku membayangkan aku dan Bellona pergi ke sebuah pantai pada waktu senja, disana hanya ada aku dan Bellona. Lalu Bellona menari di hadapanku dengan penuh gairah. Aku bisa melihat keringatnya yang mulai mengalir dari kepalanya dan jatuh ke pipinya. Kemudian beberapa helai rambut menempel di pipinya. Ketika itu ia menatapku dengan penuh manja. Hahaha… Aku selalu berimajinasi ketika aku melihat Bellona menari.
            Tiba-tiba ada yang bergetar di saku-ku. Tanganku langsung masuk kedalam saku dan mengeluarkan ponsel yang bergetar. Ketika kulihat, ternyata ada pesan masuk. Isi pesan itu bertuliskan “Roby, bawa masuk si Sabrina, jam istirahat sudah habis.”
            Aku menghela napas. Kemudian kutatap Bellona yang sebenarnya adalah Sabrina. Bellona yang tidak mau dipanggil Sabrina. Karena dari kabar yang kudengar, Bellona masuk rumah sakit ini karena ia tidak diperbolehkan oleh ayahnya untuk pergi ke Meksiko mengikuti sekolah tari.
Aku teringat malam-malam ketika Bellona menyuruhku mengantarkannya ke taman kota. Walau sebenarnya aku hanya membawanya berputar-putar dan kembali ke taman yang terletak di depan rumah sakit. Lalu aku teringat betapa susah untuk membujuknya masuk ke dalam rumah, sampai-sampai aku juga pernah dilemparnya dengan sepatu.
            Kubuka pintu mobil dan pergi mendekati Bellona.
            “Bellona, kita masuk rumah yuk?”
            “Nggak mau!” Bellona mencoba melepaskan peganganku.

Padang, 2014
*Terbit di Rakyat Sumbar, 6 Desember 2014.

Biodata Penulis:
Muhaimin Nurrizqy, lahir di Padang 12 Oktober 1995. Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Bergiat di Cinemama dan Labor Penulisan Kreatif (LPK).

0 comments:

Post a Comment