This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Monday, December 15, 2014

Datuk Maringgih Mengutuk Diri Sendiri

Cerpen Andika Sahara



Sedang erat berpaut tali kasih Siti Nurbaya dengan Malin Kundang, diam-diam Datuk Maringgih telah menjodohkan putranya dengan Oktelia. Bagi Malin Kundang, terlalu sulit untuk mengelak atas apa yang sudah diputuskan oleh ayahnya itu. Sebelumnya, Malin Kundang tak tahu bahwa dirinya telah dijodohkan. Sedangkan hubungannya dengan Siti Nurbaya tak diketahui oleh kedua orangtua mereka. Setelah menerima kabar bahwa perjodohan itu tinggal menghitung hari, Malin Kundang segera memberitahukannya kepada Siti Nurbaya. Betapa terpukul hati Siti Nurbaya mendengarnya. Malin Kundang berjanji kepada Siti Nurbaya, bahwa ia bakal berusaha agar perjodohan itu dibatalkan.
Suatu ketika, Malin Kundang berbicara dengan ayahnya. Ia berjelas-jelas kepada Datuk Maringgih bahwa cintanya dengan Siti Nurbaya sudah sangat kuat. Seperti benang dengan layang-layang. Setelah mendengar penjelasan dari Malin Kundang, Datuk Maringgih langsung naik pitam. Sebab perjanjiannya dengan ayah Oktelia sangat berisiko jika dipungkiri. Datuk Maringgih takut kalau kerajaan Cimporongnya nanti dihancurkan oleh kerajaan Antu Balawu yang dipimpin oleh ayah Oktelia. Memang kerajaan Antu Balawu begitu menakutkan oleh oleh kerajaan-kerajaan lain semenjak mereka menundukkan kerajaan Kuda Tengkak. Sejarah di masa antah barantah itu terus menghantui hingga ke masa depan.
“Malin, sebaiknya kau lupakan saja Siti Nurbaya. Bukankah anak Mangkuto Sati itu juga tak kalah cantik darinya.” Tegas Datuk Maringgih kepada Malin Kundang.
“Bukan persoalan cantik atau bagaimananya, ayah. Tapi pikirlah sedikit oleh ayah. Siapa yang tak mengenal Mangkuto Sati? Putra bungsu si Raja Alam. Tersebut ia keturunan si raja licik. Bagaimana kalau maksud Mangkuto Sati menyepakati perjodohanku dengan putrinya adalah untuk memiliki kerajaan kita?” ujar Malin Kundang kepada Datuk Maringgih.
Lancang benar kau berkata. Itu tidak mungkin bakal terjadi. Mangkuto Sati justru bakal melindungi kita dari segala ancaman, jika kau telah menjadi bagian dari keluarganya. Simpan saja kecemasanmu itu.” Ucap Datuk Maringgih sambil meletakkkan tangan kiri di pinggang, dan tangan kanan menunjuk ke arah Malin.
“Kalau kau masih bersikeras, maka kau bakal menerima kutukan seperti yang pernah dilakukan oleh Hamid Jabar terhadap putrinya. Biar nanti kau juga menjadi Umang-Umang di pantai Padang.” Tambahnya dengan sedikit mengancam.
Malin kundang segera meninggalkan ayahnya. Ia tak mau jika ancaman dari ayahnya benar-benar terjadi. Malin Kundang pergi menemui ibunya. Maka kepada ibunya, Malin Kundang berharap dapat mengadu.
Di dalam kamar, ibu Malin Kundang sedang mendengarkan baik-baik pembicaraan antara anak dan suaminya. Ibu Malin tak mampu membendung airmatanya. Satu per satu jatuh luruh di pipi. Sehingga ia tak sadar kalau perdebatan Malin Kundang dengan Datuk Maringgih telah usai. Ia tersentak ketika ada yang mengetuk pintu. Ia hapus airmatanya dengan kedua telapak tangan. Lalu, kain-kain yang sudah terlipat rapi, ia serakkan di lantai. Ia berpura-pura sedang sibuk melipat kain, jika nanti ada yang bertanya tentang apa yang sedang dilakukannya di dalam kamar.
“Bundo!”
Terdengar suara dari luar memanggilnya. Ia segera menegakkan kepala. Lalu berjalan ke pintu. Ia buka pintu perlahan seraya berusaha agar terlihat seperti biasanya.
“Ada apa, nak?” tanya ibu setelah mengetahui bahwa Malin sudah berdiri muram di depan pintu. Suaranya begitu pelan. Seperti ada yang tertahan.
“Bundo, bantulah Malin untuk membujuk ayah. Sebaiknya perjodohanku dengan Oktelia dibatalkan saja” seru Malin Kundang. Namun ibu tak menjawab apa-apa. Ia malah menarik tangan Malin, lalu membawanya ke halaman belakang istana.
Di halaman belakang istana, Malin Kundang dan ibunya bicara seperti berbisik-bisik. Begitu pelan dan hati-hati. Barangkali biar tak ada yang mengetahui. Apalagi Datuk Maringgih. Tak lama berselang, ibu masuk ke dalam istana. Sedangkan Malin Kundang tetap berada di tempat yang ditinggalkannya.
Setelah masuk ke dalam istana, ia langsung menuju kamar Malin. Ia ambil beberapa helai pakaian. Lalu dimasukkan ke dalam sebuah bungkusan yang dibuat dari kain panjang dengan tergesa-gesa. Setelah dibungkus, ia letakkan di lantai. Lalu berjalan ke pintu. Mengintip dari celah lobang pintu. Setelah dirasa tak ada orang, ia keluar dari dalam kamar seraya membawa bungkusan seperti orang akan pergi mencuci ke sungai. Malin Kundang sudah bersiap-siap sebelum menanti sebelum ibu sampai di dekatnya. Sesampai di dekat Malin, ibu langsung memberikan bungkusan.
“Bundo, bagaimana kalau ayah mengetahuinya? Bisa-bisa ayah akan menganggapku sebagai anak durhaka.” Ucap Malin.
“Malin, tenang saja. Kalau kau dianggap anak durhaka, itu tidaklah benar. Bundo sebenarnya yang pantas dikatakan demikian. Kepergianmu sebab bundo yang menganjurkan.” Timpal ibu sambil memegang bahu Malin.
“Sekarang pergilah, anakku!”
Malin Kundang berlalu meninggalkan ibunya dengan sedikit ragu-ragu. Sepeninggal Malin Kundang, ibu segera menemui Datuk Maringgih dengan raut muka dibuat-buat seperti sedang cemas. Ia berpura-pura sedang mencari Malin.
“Datuk, dimanakah Malin?” tanyanya seakan tak tahu apa-apa.
“Kau selalu memanjakan anak itu. Paling jauh, dia hanya akan pergi ke kandang kuda. Biarkan saja. Nanti sore juga bakal pulang” tepis Datuk Maringgih dengan mata sinisnya.
“Pakaian di petinya sudah tak ada!” tegas ibu Malin.
Mendengar perkataan itu, Datuk Maringgih sontak berdiri. Sebab Malin yang baru beberapa saat lalu masih bicara dengannya, telah pergi. Datuk Maringgih mengumpat dalam hati. Tapi di bibirnya, keluar perintah kepada Dubalang untuk mengumpulkan seratus orang pemuda. Dubalang bergegas keluar dari pintu istana.
Di sepanjang jalan, Dubalang bersorak, “Malin Kundang hilang. Malin Kundang mungkin menghilang!”
Sesuai perintah Datuk Maringgih, Dubalang telah berhasil mengajak seratus orang pemuda yang bersedia untuk mencari Malin Kundang. Keseratus pemuda itu langsung dibawa ke hadapan Datuk Maringgih. Mereka dijanjikan hadiah tuak seribu tabung jika telah berhasil menemukan Malin Kundang dan membawanya pulang. Maka dengan sigap mereka pergi. Walau tak tahu akan mencari kemana.
Hampir semua orang membicarakan kehilangan Malin. Sebelum berita itu tersiar ke kerajaan Antu Balawu, Datuk Maringgih sudah terlebih dahulu mengabarkannya ke Mangkuto Sati, pemimpin di kerajaan Antu Balawu lewat sepucuk surat. Surat itu berisi pemberitahuan bahwa perjanjian dibatalkan. Datuk Maringgih sebenarnya begitu sayang dengan Malin Kundang. Sebab ia Malin Kundang satu-satunya pewaris kerajaannya. Ia berpikir bahwa kepergian Malin Kundang berawal dari perjodohan yang tak bisa diterima oleh anaknya itu.  Namun ternyata Mangkuto Sati tetap saja tak terima. Jangankan memberi pertolongan untuk menemukan Malin Kundang, Datuk Maringgih justru yang disalahkan oleh Mangkuto Sati. Ia tak terima jika itu menjadi alasan dibatalkannya perjodohan antara Malin dengan Oktelia.
Mangkuto Sati mengeluarkan ultimatum lewat sepucuk surat balasan.
“Jika perjanjian atas perjodohan Malin dengan Oktelia dibatalkan, maka seribu pasukan berkuda akan berbaris di perbatasan” begitu isi surat yang dibawa pulang oleh dua orang pesuruh Datuk Maringgih.
Mangkuto Sati merasa telah dipermainkan oleh Datuk Maringgih. Maka dengan itu ia mengajak kerajaan Cimporong untuk berperang. Ia menganggap Datuk Maringgih telah ingkar. Sungguh ia tak bisa menerima. Dengan adanya ultimatum itu, ketakutan Datuk Maringgih terhadap Mangkuto Sati makin menjadi-jadi. Sebab ia tahu bahwa kerajaannya tak memiliki pasukan perang sekuat kerajaan Antu Balawu. Tubuhnya menggigil seusai membaca surat itu. Ia benar-benar takut kalau Cimporong, yang merupakan kerajaan terkaya itu dihancurkan.
Pada saat bersamaan, di kerajaan Singo Ompong, riuh juga orang-orang sedang membicarakan kehilangan Siti Nurbaya. Hampir sama persoalannya dengan kehilangan Siti Nurbaya. Tapi hilangnya Siti Nurbaya, memang tak satu orangpun yang mengetahui. Bahkan ibunya sekalipun. Entah hilang, atau dihilangkan. Entahlah.
Berita kehilangan Siti Nurbaya terdengar sampai ke telinga Datuk Maringgih dalam tempo yang begitu singkat. Datuk Maringgih mencoba mengait-ngaitkannya dengan kehilangan Malin Kundang. Sebab baginya, bukan mustahil lagi kalau Malin Kundang pergi bersama Siti Nurbaya. Datuk Maringgih langsung turun tangan untuk berangkat ke kerajaan Singo Ompong. Ia tak geram sama sekali dalam melangkah. Bahkan ia begitu sering menghardik kusir bendi yang lalai melecut pantat kuda.
Sesampai di kerajaan Singo Ompong, Datuk Maringgih langsung mencari rajanya. Saat ia tiba, di depan istana orang-orang sedang berkumpul. Datuk Maringgih bersama beberapa orang pengawalnya menyibak kerumunan. Langsung ia tanya dimana raja. Seorang Dubalang di kerajaan Singo Ompong berusaha menghadangnya.
“Ada perlu apa tuan mencari raja?” tanya Dubalang.
“Kami hendak bicara. Putra kami hilang.” Ungkap Datuk Maringgih.
“Maaf tuan. Raja sedang berduka. Putrinya yang hilang sejak semalam, baru saja ditemukan tergeletak di tanah. Sebaiknya tuan kembali saja.”
“Sakit?” tanya Datuk Maringgih.
“Mati. Tidak tahu penyebabnya. Kami hanya menemukan bekas tabung racun di tangan kanan Siti Nurbaya, putri raja”
Mendengar penjelasan dari Dubalang, Datuk Maringgih hanya mengangguk. Lalu memberi isyarat kepada pengawalnya untuk segera pergi.
Setelah tiba kembali di kerajaan Cimporong, Datuk Maringgih terlihat asing. Disapa oleh istrinya, ia tak menjawab. Ia mengurung diri di dalam kamar. Memang begitu berat baginya untuk kehilangan Malin. Apalagi ditambah oleh ancaman yang datang Mangkuto Sati.
***
Selama dua hari dua malam, Datuk Maringgih tak terlihat. Ia mengurung diri di dalam kamar. Pintu ia kunci erat-erat. Istrinya saja tak ia biarkan masuk. Melihat keadaan itu, istrinya cemas. Dipanggil pun ia tak menyahut. Pada hari ke dua itu, istrinya menyuruh seorang pengawal kerajaan untuk mendobrak pintu. Setelah pintu rubuh, tak terlihat Datuk Maringgih di dalam kamar itu. Yang ada hanyalah sebatang pohon pinus. Tak diketahui dengan pasti asalnya. Di duga pohon pinus itu adalah jelmaan Datuk Maringgih. Semenjak itu tersiar kabar bahwa Datuk Maringgih mengutuk dirinya sendiri menjadi pohon pinus. Sedangkan istrinya merasa sangat menyesal karena telah menyuruh Malin Kundang pergi merantau.*

Limau Manis, 2014
*Terbit di Padang Ekspres, Minggu 14 Desember 2014

Andika Sahara, lahir di Payakumbuh tanggal 21 Agustus 1990. Melakukan studi Sastra Indonesia di Universitas Andalas. Giat menulis cerpen di Labor Penulisan Kreatif. Saat ini aktif di perfileman bersama komunitas Filtograph.

Saturday, December 6, 2014

Bellona

Aku masih sibuk mengorek-ngorek saku celana, beranggapan ada korek api di dalamnya. Sebatang rokok yang belum terbakar menancap di kedua bibirku. Ujung rokok itu sudah lunak dan basah. Aku tidak merasakan lagi manisnya.
            Karena sudah menyerah, aku putuskan masuk ke dalam rumah. Aku tidak mempunyai ide mencari korek itu di dalam lemari atau di atas kulkas. Hanya dapur yang kuyakini memiliki api.
            Di dapur aku menemukan kompor kosong. Aku mendekat, lalu mendekatkan ujung rokokku di tempat yang biasanya mengeluarkan api. Tangan kananku memutar pedal kompor. Seketika rokokku terbakar. Lalu aku cepat-cepat keluar, karena di rumah ini tidak boleh ada asap rokok. Itu peraturannya. Aku juga tidak tahu siapa yang membuatnya. Yang jelas jika ketahuan aku merokok di dalam rumah, aku bakal kena denda.
            Di luar, aku duduk di bangku panjang yang menghadap ke taman. Di taman itu tumbuh bunga berwarna-warni. Aku tidak tahu pasti bunga apa saja yang tumbuh disana. Tapi jika ada bunga berwarna merah, aku hanya meyakini itu adalah bunga mawar.
            Kopi yang hanya tinggal setengah di sebelahku seakan-akan menyempurnakan ketenangan malam itu. Ditambah lagi langit yang cerah penuh bintang-bintang.
            Ketika sedang menyeruput kopi, aku mendengar ada suara yang memanggilku dari dalam rumah. Suara itu tidak asing. Suara itu adalah suara Bellona. Ya, itu adalah suara Bellona. Kuarahkan pandangan menatap ke pintu.
Tidak lama setelah itu, Bellona keluar dengan pakaian serba bergelombang. Bellona memakai gaun Flamingo. Baju itu berwarna merah padam dengan rok yang memiliki gelombang seperti gulungan ombak di Mentawai.
            “Serpertinya ia ingin menari,” bisikku dalam hati.
            Kuseduh kopi hingga habis, lalu segera mendekatinya.
            “Ada apa Bellona?”
            “Ada yang memintaku untuk menari di taman kota,ia mengucapkan kalimat itu dengan terus tersenyum, sepertinya ia sangat gembira dengan permintaan itu.
            “Lalu, apa yang harus saya lakukan?” tanyaku dengan sedikit senyum di akhir kalimat.
            “Panaskan mobil, kita pergi sekarang.”
            “Baiklah, Bellona,aku akhiri dialog ini dengan senyum. Lalu segera menuju garasi mobil.
            Dari dalam garasi aku masuk ke dalam mobil dan menghidupkannya. Tidak begitu lama.  Aku langsung mengeluarkan mobil dan mengendarainya menuju tempat Bellona berdiri. Ketika lampu mobil mengenai wajahnya, tampak Bellona tersenyum panjang sambil memandang mobil yang kukendarai.
            “Silahkan masuk Bellona.” Aku tetap berada di kursi sopir ketika mempersilahkannya.
            Dengan cepat Bellona membuka pintu belakang dan langsung masuk menghempaskan pantatnya, kemudian dengan cepat pula menutup kembali pintunya.          
 “Jadi kita ke taman kota Bellona?” ucapku memastikan tujuan pergi.
Dari kaca spion aku melihat Bellona hanya mengangguk-angkuk dengan senyumnya yang tak hilang dari tadi. Kami kemudian beranjak pergi keluar dari halaman rumah menuju jalan raya.
Taman kota cukup jauh dari sini. Apalagi dengan mobil, pastinya sering terjebak macet. Di kota ini mobil begitu banyak. Jalanan dipenuhi asap-asap. Bukan hanya asap kendaraan saja. Asap kuali tukang bakso. Asap pedagang sate. Asap dari pembakaran sampah yang menyebar. Dan asap rokok.
Kami baru memasuki jalan raya, namun macet sudah menghadang. Sembari menunggu macet, kuraba saku celana untuk mengetahui di mana letak kotak rokok tadi. Setelah kotak rokok itu kukeluarkan, kuambil satu batang dan mengapitnya dengan kedua bibir. Kumasukkan lagi kotak rokok itu, kemudian tanganku menekan tombol di antara rak sebelah kiri stir, yang bergambarkan ilustrasi sebatang rokok dengan asapnya.
Beberapa saat kemudian, tombol itu berbunyi. Kutarik tombol itu keluar dan ujungnya yang berwarna merah kudekatkan ke ujung rokokku.
Hembusan pertama kuarahkan keluar jendela. Kemudian rokok itu kuhisap lagi sambil melihat kaca spion. Di dalam kaca spion, aku melihat Bellona sedang menggerakkan kedua pergelangan tangannya seperti sedang menari. Kepalanya juga ikut digerakkan sesuai tempo gerakkan pergelangan tangannya. Sedangkan pandangannya lurus ke bawah.
“Sepertinya ia sudah tidak sabar untuk menari,” ucapku dalam hati.
Lima belas menit kemudian jalanan mulai lancar–walau hanya bisa memacu mobil dengan kecepatan lambat.
***
Akhirnya mobilku berhenti tepat di depan sebuah taman.
“Kita sudah sampai Bellona.”
Bellona langsung membuka gagang pintu. Namun tidak bisa terbuka, karena mobil ini memiliki kepala kunci, yang kepala kunci tersebut berada di kunci milik pintuku. Jika kunciku tidak terbuka, kunci yang lain pun tidak akan terbuka.
“Roby, cepat buka!”
Aku segera membuka kunci milik pintuku dan Bellona dengan cepat keluar dan langsung menuju taman.
            Aku hanya bisa melihatnya dari dalam mobil. Bellona langsung menggerakkan tubuhnya,  dan tariannya pun dimulai. Lekuk tubuh Bellona lentur sekali. Ini tidak kali pertama aku melihatnya menari. Namun aku tetap tidak bosan-bosan melihatnya menari.
            Aku memperhatikan setiap gerakkan tubuhnya. Rambutnya. Dan senyumnya. Itu semua membuatku terlena.
            Kuraba lagi saku untuk mengambil rokok lalu membakarnya. Tenggorokkanku terasa kering. Kuhidupkan lampu di langit-langit mobil agar bisa melihat tempat-tempat yang mungkin bisa meletakkan botol minuman. Tanganku meraba rak di depan kursi yang berada di sampingku.  Itu membuat tubuhku harus merebah untuk membukanya. Dari dalam rak itu aku mendapati botol berisi setengah air. Dinding botol itu ada uap air yang sudah memutih. Aku meminumnya. Rasa air di botol itu sedikit pahit.
            Di luar, aku masih melihat Bellona menari. Bellona menari penuh semangat. Ia tidak kenal lelah. Gerakkan Bellona semakin mempesona. Semakin cepat. Rambutnya mulai basah oleh keringat. Ada beberapa helai rambut yang menempel di pipinya. Itu membuat Bellona begitu eksotis di mataku.
              Kulipat kedua tanganku di besi jendela mobil untuk menahan dagu. Ini adalah posisi yang nyaman untuk melihat Bellona yang sedang menari. Aku membayangkan aku dan Bellona pergi ke sebuah pantai pada waktu senja, disana hanya ada aku dan Bellona. Lalu Bellona menari di hadapanku dengan penuh gairah. Aku bisa melihat keringatnya yang mulai mengalir dari kepalanya dan jatuh ke pipinya. Kemudian beberapa helai rambut menempel di pipinya. Ketika itu ia menatapku dengan penuh manja. Hahaha… Aku selalu berimajinasi ketika aku melihat Bellona menari.
            Tiba-tiba ada yang bergetar di saku-ku. Tanganku langsung masuk kedalam saku dan mengeluarkan ponsel yang bergetar. Ketika kulihat, ternyata ada pesan masuk. Isi pesan itu bertuliskan “Roby, bawa masuk si Sabrina, jam istirahat sudah habis.”
            Aku menghela napas. Kemudian kutatap Bellona yang sebenarnya adalah Sabrina. Bellona yang tidak mau dipanggil Sabrina. Karena dari kabar yang kudengar, Bellona masuk rumah sakit ini karena ia tidak diperbolehkan oleh ayahnya untuk pergi ke Meksiko mengikuti sekolah tari.
Aku teringat malam-malam ketika Bellona menyuruhku mengantarkannya ke taman kota. Walau sebenarnya aku hanya membawanya berputar-putar dan kembali ke taman yang terletak di depan rumah sakit. Lalu aku teringat betapa susah untuk membujuknya masuk ke dalam rumah, sampai-sampai aku juga pernah dilemparnya dengan sepatu.
            Kubuka pintu mobil dan pergi mendekati Bellona.
            “Bellona, kita masuk rumah yuk?”
            “Nggak mau!” Bellona mencoba melepaskan peganganku.

Padang, 2014
*Terbit di Rakyat Sumbar, 6 Desember 2014.

Biodata Penulis:
Muhaimin Nurrizqy, lahir di Padang 12 Oktober 1995. Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Bergiat di Cinemama dan Labor Penulisan Kreatif (LPK).

Thursday, November 20, 2014

YANG TERPASUNG


Cerpen Hakimah Rahmah Sari

SESEORANG berteriak, disahut teriakan lain yang lebih kencang. Tiba-tiba semua orang di ruangan itu berteriak pula. Seseorang menangis, disambut tangisan berikutnya yang makin panjang. Seluruh kepala di ruangan melongok ke sana ke mari. Tapi, aku tidak!
Seseorang menempelkan wajahnya di kaca jendela kelas. Matanya merah melotot, rambut awut-awutan, tidak mengenakan baju, hanya selecut kain yang menempel di bawah perut yang membuncit itu. Kulitnya berwarna cokelat, dekil, penuh koreng, dan panu di bagian punggung dan leher. 
Semua mulai panik. Salah seorang anak perempuan yang duduk di tepi jendela terisak, gadis manis berkulit putih itu memicu keributan di kelas. Ia menangis, disambung oleh tangisan seorang anak laki-laki bermata sipit—anak yang sering diintai oleh lelaki itu—yang duduk di pojok belakang, tepat di balik jendela ketika Siman menempelkan wajahnya itu.
Kelas kami gempar. Ibu guru masuk ke ruangan, menutup pintu dan meminta untuk tetap di dalam kelas. Aku tenang-tenang saja.
Siman! Lagi-lagi dia. 
Tak ada yang mau menyentuhnya, kecuali perempuan itu. Siman begitu kotor dan bau. Seorang perempuan tua datang ke sekolah, menggunakan tongkat. Siman ditarik perempuan itu. Ia begitu takut dan patuh pada si perempuan. Siman yang suka menggaruk-garuk badan dituntun ke rumahnya di samping sekolah. Suasana mulai tenang. 

SEMUA orang sudah tahu, bahwa Siman adalah orang yang pintar. Ia orang tidak waras yang cerdas. Suatu pagi di hari Minggu, di bawah pohon belimbing di jalan beraspal, sebuah meja digelar. Ada yang menjual lontong di sana. Siman datang membawa wadah—membeli lontong. Seperti biasa, orang-orang menutup hidung jika ia lewat. Jarak antara rumahnya dengan jalan beraspal tak begitu jauh. 
“Lihatlah, dengan apa dia membayarnya? Dasar bau! Ndak waras! Menjauhlah!” ujar seseorang.
“Hussh! Ayahnya itu pensiunan veteran. Pejuang! Orang yang dihormati dan disegani. Tentu ada dana yang cair setiap bulan,” timpal seorang perempuan tambun.
“Ya, ya! Dia punya uang. Hanya nasib malang saja. Lihatlah uda kandungnya, ndak waras pula. Kutukan apa itu? Padahal, dahulu dia orang jenius.” 
“Kata mertua saya, dia diguna-guna sewaktu sekolah menengah atas, karena orang iri padanya dan pada uda-nya. Di kampung ini, Sipar satu-satunya orang dari kabupaten bahkan dari Kota Padang yang bisa kuliah di UI karena jenius. Namun, ya. Orang iri, ya, begitulah, diguna-guna. Bukannya kuliah, malah senewen, dan sekarang apa? Jadi agen barang-barang bekas! Miris!” imbuh wanita hamil yang duduk bersandar di bangku kayu. 
“Ketika dia mencuri mangga muda, merusak bunga-bunga dan menyelipkannya di cuping telinga, serta menghidupkan lagu Meriam Belina dengan volume yang aduh, memekakkan telinga itu, ibunya yang pakai tongkat selalu saja membela. Anak saya sewaktu pulang sekolah, jika ada dia, pasti ketakutan. Ia suka mengejar anak-anak yang cantik dan ganteng. Ia akan menggendongnya sampai anak itu menangis,” lanjut perempuan lain yang juga buncit. Hamil tua.
Siman menyimak dengan saksama. Ia tersinggung—serupa orang waras—akan pembicaraan perempuan-perempuan itu. 
“Hoi, kau semakin hari semakin cantik saja, tapi mulutmu serupa mulut orang bodoh, tidak berpendidikan, gila! Kasihan anak dalam kandungan itu. Meskipun badanku bau, namun hatiku tidak sebau ucapanmu,” tunjuk Siman pada kedua perempuan itu secara bergantian.
Semua terpana mendengar ucapan Siman. Mereka mafhum. Siman sedang waras saat itu. Atau, barangkali guna-guna tidak mangkus jika ia tersinggung. Entahlah! 

BEBERAPA hari setelah peristiwa di sekolah itu, Siman yang umurnya berpaut lima tahun dengan umur ibuku, tak pernah muncul lagi untuk waktu yang lama. Ia hanya duduk-duduk di kursi depan rumahnya, seperti biasa, menghidupkan radio dengan volume tinggi. Menyetel siaran berita RRI, tertawa sendiri, dan menyeru setiap orang yang lewat. Aku ingat betul, sebab rumahku tak jauh dari rumahnya. Aku tak takut padanya. Ia orang yang baik dan pintar,  kecuali setelah peristiwa itu. 
Suatu hari, aku bermain ke rumah teman akrabku. Rumahnya sederhana. Halaman rumah itu ditanami bunga pukul empat, pisang-pisangan, bunga terompet yang menjalar-jalar di pagar. Siman sering mematahkan bunga-bungaan di sana dan membawanya pulang. 
Di ruang tamu, ada mainan kupu-kupu plastik yang ditempel di kaca lemari. Siman memiliki hubungan darah dengan temanku, ia sesekali berkunjung ke sana, dan temanku membencinya. Aku melihat Siman yang setengah telanjang, sedang mengutip satu mainan kupu-kupu warna kuning kunyit dengan corak hitam yang ditempel di sisi kiri lemari. Ia tergagap ketika aku masuk ke sana, namun aku tak menegurnya dan terus ke belakang, menemui temanku. Aku bertemu ibunya, dan menyampaikan apa yang kulihat. Siman tahu itu! Deg! Aku gemetar. Ia komat-kamit. Mengancam akan membunuhku. Mencekikku. Liurku terasa mengental. Pandanganku kabur. Ia sedang tidak waras! 
Akhirnya di suatu sore, sehabis mandi. Aku sedang di kamar, terdengar ribut-ribut di luar rumah.
“Hoi, Pin. Mana anakmu? Kubunuh! Akan kucekik! Pengadu! Jahat! Sally, di mana kau? Keluar! Kubunuh! Kucekik!” teriak Siman. Ia masuk ke rumah. Hilir-mudik dari ruang tamu ke dapur, mencari diriku. Dadaku berdetak cepat. Liurku mengental. Tubuhku gemetar. Mencari pintu. Bersembunyi. Mengintip dari segaris cahaya di celah-celah engsel pintu. 
Ibu keluar. Marah. Mengusir Siman. Ia pergi setelah mengancam akan mencariku lagi.
Beberapa hari, aku bermain kucing-kucingan dengan Siman. Jika melihatnya aku akan lari terbirit-birit, bersembunyi. Sampai seminggu kemudian, ia pun lupa. Aku lega. 

BERKALI-KALI aku memerhatikan Siman, sepengetahuannya ataupun tidak. Sepulang sekolah, sewaktu duduk-duduk di cabang-cabang beringin dengan teman sambil makan kuaci, seorang laki-laki mengenakan baju seragam putih abu-abu, dengan tas yang disampirkan di bahu kiri, berdiri di pinggir jalan beraspal. Kami bertanya-tanya. Siapa itu? 
Siman! Itu Siman! Siman pulang sekolah? Atau Siman ingin pulang sekolah?
Temanku mengganggunya. Aku hanya duduk diam. Takut. Trauma. Teman laki-laki mengejeknya. Menyoraki dan melempar dengan buah beringin. Ia marah. Mengintai kami dari bawah. Komat-kamit. Hingga ibunya datang. Menuntunnya pulang.
Di lain waktu, Siman mengenakan baju ibunya, pergi ke batang air dekat jembatan, bagai penyanyi dangdut, menyanyi di sana. Lalu pulang. Mengganti baju, baju tentara, baju almarhum ayahnya. Bahkan ia pernah memakai mukena ibunya di suatu malam, berjalan di kuburan. Orang-orang menyangka kuntilanak, rupanya Siman. Ia mengenakan berbagai macam pakaian—barangkali ketika dia sedang waras, dia merasakan hidup berdasarkan cita-citanya, entahlah! 
Orang-orang mengejek, namun ada juga yang memberi komentar baik. Jika ia perempuan, Siman akan memuji dan mengatakan “Wah, semakin hari kau semakin cantik saja.” Jika laki-laki, Siman akan memujinya pula. 
Begitulah Siman. Siman yang malang. Sampai pada suatu ketika, saat aku tumbuh menjadi remaja, seusai menamatkan pendidikan sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas lalu sekolah ke kota lain. Kota yang dingin. Sesuatu hal yang buruk selalu menimpa Siman—orang yang sesuku denganku, mamak temanku itu.
Selama sekolah di kota lain itu, aku mendapat kabar bahwa Siman dibawa lagi ke rumah sakit jiwa di Gaduik. Sakitnya hilang-timbul. Sudah beberapa kali ia dirawat di sana. Namun kali ini, ketika aku sedang melanjutkan studi di kota yang berbeda, hal mengerikan itu terjadi lagi. Siman ingat bahwa ia akan membunuhku. Mencekikku! 
Ia dinyatakan sembuh dan pulang ke rumah. Semua orang yang kenal dengan Siman terharu. Tapi tidak begitu lama. Sore hari, ketika aku lewat di depan rumahnya, ia mengikutiku dari belakang. Tak sedikit pun rasa khawatir muncul dalam diriku. Sampai di persimpangan jalan, sepasang tangan menempel di leherku dan mencekik. Tangannya begitu kuat. Aku megap-megap. Kewalahan. Tanganku menggapai-gapai. Terasa sakit. Seseorang berteriak. Memukul pundak Siman dengan arai pisang. Siman mengaum, marah. Ia tumbang. Berguling-guling. Mencakar tanah. 
Aku menepi. Napasku tersengal. Orang-orang mulai berdatangan, seorang di antaranya memberiku minum. Aku menangis. Gemetar. Leherku panas. Rasa tercekik itu masih ada, bagai tertahan di sana. Aku ciut.
Kejadian itu membuat semua orang buncah, keluar dari rumah. Siman dipasung, padahal selama ini ia tidak pernah membahayakan orang. Ibunya tak ingin membawa Siman ke Gaduik lagi. Lelaki itu dipasung di rumah besarnya yang bau. Bau kotoran itik, buah-buahan busuk yang dikumpulkan Siman, onggokan kelapa, dan kayu-kayu mersik yang diangkutnya dari tepian danau dengan ibunya. Dua orang yang malang. Saudara-saudaranya pergi merantau, dan pulang dua kali sebulan. Tinggal mereka berdua beranak. 
Siman dipasung, setelah mencekikku! Mamak-mamaknya memutuskan demikian. Siman meraung sepanjang malam. Merintih. Tertawa terbahak-bahak, merintih lagi, begitu sepanjang malam. Kaki dan tangannya terbelenggu. 

AKU pulang, setelah cukup lama meninggalkan rumah. Banyak hal yang terlewatkan. Orang-orang yang tak kusangka meninggal begitu pagi, orang-orang yang selama ini dikenal baik tiba-tiba didatangi polisi tengah malam menerima surat panggilan. Semua berjalan begitu saja. Siman tetap saja dengan dunianya, dengan pribadinya. 
Sampailah di suatu hari, ketika embun pagi masih bulat-bulat di ujung rumput; ketika matahari mulai mengintip, orang-orang di sekitar rumahku—dekat rumah Siman—berteriak. “Siman kabur. Hei, Siman kabur!” Semua gempar. Anak-anak yang berjalan menuju sekolah, terhenti, melihat Siman yang lari lambat-lambat menuju danau. Lihatlah, betapa kurusnya ia. Betapa lisutnya tubuh yang dahulunya gempal dan tegap itu. Oh, Tuhan! Siman yang malang.
Beberapa orang laki-laki dewasa—mamak-mamak Siman—berlari seraya membawa kain panjang dan selimut tebal. Membalut tubuh kurus Siman, merebahkan, dan mengangkutnya pulang. Ia berteriak minta tolong. Jarak antara aku dan Siman kira-kira hanya tiga meter. Mata itu. Mata yang memintaku. Memintaku untuk meloloskannya. Mata yang membuat air mataku menggenang dan jatuh. 
Setiap pulang, aku selalu bertanya tentang Siman pada ibuku. Pulang di minggu terakhir bulan April ini, sesuatu memerihkan mataku. Cerita Ibu membuat ingatan tentang mata Siman berkelebatan. Mata yang meminta. Siman telah meninggal seminggu yang lalu. Betapa duka menangkap hatiku ketika Ibu menceritakan bahwa ia begitu lisut dan menyedihkan. Orang-orang hampir tidak mengenalinya. 
Aroma minyak orang mati menyeruak menembus hidungku. Meresap ke pori-pori. Taburan-taburan bunga mawar ranum berserakan di pelupuk mata. Aku rindu Siman. 
Seseorang berpakaian seragam putih abu-abu, dengan tas yang disampirkan di bahu kiri, berdiri di tepi jalan beraspal. Tubuhnya gempal dan tegap. Siman? 

INS Kayutanam, Mei 2014



Biodata Penulis: 
Hakimah Rahmah Sari, kelahiran 11 Januari 1994. Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.

Tuesday, November 18, 2014

Atuk dan Seekor Anjing

Cerpen Muhaimin Nurrizqy

Sekarang di setiap malam, Atuk selalu bercerita kepadaku. Ia selalu menceritakan hal yang sama setiap bercerita. Jadi, ketika ia bercerita, aku sudah hafal dimana nada bicaranya akan lembut atau tegas.
Jika tempat gelapku dimasuki cahaya dari arah pintu, pada waktu itulah Atuk masuk. Ketika ia di dalam, aku hanya bisa diam. Lalu mulutku mulai bergetar. Saat Atuk mulai bercerita, selalu air mengalir dari sudut mataku.
***
Pagi itu pipiku serasa dielus lembut. Seperti elusan kapas. Ya, itu elusan ibu untuk membangunkanku. Ketika mataku terbuka, ada siluet senyum ibu yang lama-kelamaan mulai jelas. Lalu terdengar suara, “Bangun Yuang, bantu Ibu keladang.” Aku segera duduk. Termenung sesaat. Kemudian berlari menuju sumur untuk mandi.
Setelah mandi, pakaian sudah disiapkan ibu di atas kasur. Karena takut ditinggal ibu, aku salah memakaikan baju. Lubang yang sebenarnya untuk tangan malah kepalaku yang masuk. Segera kubenarkan memasangnya. Lalu aku langsung berlari keluar sambil tertawa.
Udara pagi melesat masuk hidung dan mengalir menuju paru-paru. Aku dan ibu mulai berjalan keluar halaman rumah untuk menuju ladang.  Tempayan dipegang ibu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya aku pegang sambil berjalan dengan langkah-langkah yang sengaja aku besarkan.
Pagi itu hanya ada warna biru yang halus. Di langit terlihat burung-burung melayang kesana kemari. Aku melihat dua burung yang sedang bergelut. Mereka saling menyerang dengan cakar mereka. Itu sangat menarik bagiku, sehingga bulatan hitam di mataku hanya terpaku mengikuti arah mereka terbang.  
Belum cukup lama aku melihat burung-burung itu, tiba-tiba saja langkahku terhenti karena tangan ibu juga berhenti bergerak. Kami melihat orang-orang berlari ke arah lapangan yang berada di depan surau.
Aku melihat ada seseorang yang juga mememegang tempayan dengan tangan kanannya. Orang itu adalah Mak Elok. Mak Elok yang biasa berladang dengan kami. Mak Elok sering memberikanku singkong rebus, walau aku terkadang malas memakannya.
Karena postur tubuhnya membungkuk, Mak Elok berjalan sangat lamban. Tangannya yang memegang tempayan seperti hanya tinggal tulang yang berbalut kulit. Aku juga sering melihat di tangan Mak Elok banyak tonjolan-tonjolan yang mirip aliran sungai.
Di belakang Mak Elok ada seorang lelaki yang hanya memakai celana. Lelaki itu sedang menarik seekor kerbau, yang diikuti kerbau yang lebih kecil.
Tiba-tiba tangan ibu menarikku. Aku melihat dahi ibu berkerut. Pandangannya tidak beraturan. Sesekali ibu melihat ke kanan lalu ke kiri. Kelopak mata ibu lebih cepat berkedip dari sebelumnya. “Ada apa bu?” tanyaku. Ibu hanya diam. Kami berjalan mengikuti arah kerumunan.
Kami berhenti di kerumunan itu. Ramai sekali orang di sana, sehingga aku tidak bisa melihat apa yang terjadi di depan. Kemudian ibu menarikku ke sudut lain yang bisa melihat keadaan di depan sana.
Aku melihat panggung yang di atasnya ada beberapa Kompeni dan barang-barang yang ditumpuk. Salah satu dari Kompeni itu maju ke depan. Kompeni itu seperti sedang berbicara. Karena aku dan ibu berada di belakang keramaian, kami tidak mendengar apa yang diucapkannya. Ibu mencoba bertanya kepada orang-orang yang berada di dekat kami, tapi juga tidak ada yang mendengar.
Orang mulai berbisik-bisik. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku tidak tahu. Yang jelas mereka berbisik. Di tengah itu, terdengar suara mesin dari arah belakang. Pandangan semua orang seketika berbalik menuju arah tersebut.
“Itu apa bu?” tanyaku.
 “Itu mesin berjalan dengan empat roda, nak,” jawab ibu.
Dari benda itu turun seseorang yang memakai baju putih bersih. Baju itu mengkilat,  menyilaukan pandangan. Hanya orang itu yang memakai baju sebersih itu di sini. Karena bagi kami yang biasa memakai baju adalah wanita. Itu pun tidak sebersih baju yang dipakai orang itu. Aku pun bertanya kepada ibu siapa orang itu.
“Itu orang Padang yang kaya, nak,” jawab ibu.
Ketika ia berjalan memasuki kerumunan, orang-orang menepi memberinya jalan. Orang itu terus berjalan ke depan sampai punggungnya tertutup lagi oleh kerumunan.
Kompeni di panggung itu kemudian mengangkat sebuah benda berbentuk guci. Seketika orang berteriak. Samar-samar kudengar orang mengucapkan “Dua, Tiga, Empat setengah.”
Teriakkan itu terhenti ketika kulihat ada orang yang naik ke atas panggung dan mengambil barang tersebut. Seperti itu selanjutnya. Ketika Kompeni itu mengangkat sebuah benda, orang-orang bakal berteriak.
Dari arah belakang terdengar lagi suara mesin.
“Itu mesin berjalan dengan dua roda, nak,” ujar ibu tiba-tiba.
Benda itu dikendarai oleh seseorang yang memakai baju merah. Tepatnya merah padam. Orang-orang tidak menggubrisnya, karena segala pandangan tertuju ke atas panggung.
“Itu siapa bu?” tanyaku.
 “Itu orang Bukittinggi yang banyak duitnya,” jawab ibu.
Orang yang memakai baju merah padam itu berlari menuju kerumunan sambil berteriak “Lima! Lima!”
***
Silau cahaya dari arah pintu membuat mataku susah melihat. Aku tahu yang datang itu Atuk. Ia membawa setengah batok kelapa yang berisi nasi. “Makan ya, nanti sakit,”  suara serak yang menjadi ciri khas suara Atuk. Batok kelapa itu diletakkanya dekat kepalaku.  Batok itu kubiarkan saja di sana. Tidak kusentuh.
Atuk keluar dan menutup pintu. Mataku kembali dibutakan oleh warna hitam.
***
Tanganku terlepas dari tangan ibu. Aku mencoba mencari-cari tubuh ibu di sela-sela keramaian. Aku menyelip di antara banyaknya orang disana. Arah pergiku hanya dituntun oleh suara ibu yang memanggil-manggil namaku.
Beberapa saat kemudian, aku kehilangan suara ibu. Jalanku semakin kencang.  Menabrak-nabrak orang di depanku. Tak tahu arah. Aku terus menyelip. Berlari. Menangis.
Aku berhenti dan menghela napas. Lalu aku menyadari sekarang berada di depan kerumunan. Aku sekarang berada dekat dengan panggung.
Kemudian aku dihadang Kompeni berbadan besar dengan senjata panjang di pelukannya. Aku mencoba berteriak memanggil nama ibu,  tapi suaraku tenggelam oleh suara teriakkan orang-orang.
Di sebelah kananku duduk orang Padang yang memakai baju putih tadi. Ia terlihat sedang mengacung-acungkan jarinya membentuk sebuah angka. Orang itu tidak penting bagiku. Yang terpenting dimana ibu sekarang.
Darahku tersirap seketika. Dari sela-sela badan Kompeni besar itu,  aku melihat ibu sedang berada di atas panggung. Suara sorakan kerumunan tiba-tiba menghilang. Ada lelaki yang memegang tangan ibu. Itu bukan Kompeni. Itu Atuk. Di sebelah Atuk berdiri orang Padang tadi. Cepat sekali orang Padang itu sampai di panggung, bisikku dalam hati.
Aku melihat mereka seperti sedang berbicara. Dadaku tiba-tiba sesak. Pandanganku mulai buram. Aku berencana mengejar ibu ke atas panggung. Lalu kuhantam saja Kompeni yang berada di depan. Tapi rencanaku itu sia-sia. Kompeni tadi memegang tanganku.  Lalu ia mengangkatku. Hal terakhir yang kulihat adalah sebuah tangan besar tepat di depan mataku.
***
Suara pintu terbuka. Cahaya langsung menyilaukan mataku. Kulihat Atuk datang. Tidak membawa apa-apa.
“Kenapa belum tidur? Hari sudah malam,” Atuk mengelus kepalaku.
“Nah, Atuk cerita ya, biar kamu bisa tidur.”
“Dulu, istri Atuk adalah wanita yang paling Atuk cintai. Tapi istri Atuk lebih dulu meninggalkan Atuk. Untung saja karena ibumu, Atuk mendapat banyak uang. Hahaha… Sekarang, Atuk sudah punya istri yang merawat dan mencintai Atuk. Atuk juga sudah punya anak. Rumah Atuk pun besar. Sebagai balasan Atuk kepada ibumu, Atuk menjagamu dan merawatmu di sini…” Bulir-bulir air mulai mengalir di pipiku.
Tiba-tiba ada suara dari luar.
“Sayang ada orang mencarimu, dia bilang namanya Baharto, teman lamamu dari Padang.”
“Ia, tunggu sebentar.”
Kemudian Atuk pergi meninggalkanku tanpa menyelesaikan ceritanya. Malam itu, aku melolong sejadi-jadinya.
Padang, 2014


Biodata Penulis:
Muhaimin Nurrizqy, lahir di Padang 12 Oktober 1995. Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Bergiat di Cinemama.