This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Saturday, December 6, 2014

PUISI-PUISI MUHAIMIN NURRIZQY




 PUAN BERMAIN HUJAN*

Tak mungkin tawa Puan masih terang
sedang di langit awan gelap terus memekakkan loteng
yang sudah seminggu ini menciptakan sebuah simponi.

Simponi hujan Desember,

Masih saja Puan duduk di sudut jendela
memandang bulir yang berlari-lari
bulir yang saling menyatu, lalu
pecah di tepi bingkai kayu.

Bingkai kayu yang lapuk,

Lantas Puan pun ikut bermain
bersama bulir,
bersama hujan

sebab, sudah seminggu ini
darah Puan membeku menahan rindu pada orang itu.

“Keluarlah Puan. Cipratkan air hujan yang tergenang di lubang itu,
di lubang yang kita bikin seminggu lalu.”

Padang, 2014


Catatan: Puan Bermain Hujan adalah salah satu judul dari lagu Payung Teduh.

  
ADEGAN-ADEGAN YANG BERANTAKAN

Darahmu menguap.
***
Langit bersih tanpa awan.
***
Partikel serupa carian merah terbang.
***
Ada gumpalan sebentuk awan tertiup lamban.
***
Aku baru saja ingin pergi ke pasar Ganting.
***
Hujan turun tepat di ubun-ubunku.
***
Ususmu terburai di aspal kering.
***
Pagi yang basah, bibir yang merona.

Emilya, aku sengaja membikin ini puisi berantakan,
sebab aku hanya ingin menikmati adegan-adegan (yang) itu bersamamu,
bersamamu yang telah lalu.

Padang, 2014






 BILIK JANTUNG

Ada ruang bangkai di bilik kiri jantungmu. Aku masuk
Aku mendengar lagu melow yang keras, terus diulang-ulang.

Ternyata di sudut ruang ada setangkai bunga mengayun mengiringi lagu.
Aku terlena.

Lalu kakiku dibenami lumpur merah. Lalu kelam
Ketika aku tersadar, aku sudah menjelma darah di tubuhmu.

***
Darahmu (Aku)  menggelogak. Panas
Aku tiba di kepalamu. Mengaliri urat-urat bola matamu
hanyut kesana-kemari di labirin benakmu. 

Aku entah dimana–hanyut di tubuhmu ke tempat
yang aku tidak tahu namanya.

Tubuhmu semakin sempit untuk aku,
untuk aku yang makin menggelogak. Makin banyak.

***
Aku melihat wanita itu, dengan perut terburai
dan tangan menggenggam belati
terduduk di sudut kamar mandi.

Sedang aku terus mengalir ke arah lubang kencing
yang baunya pahit sekali.

Padang, 2014












Biodata Penulis:
Muhaimin Nurrizqy, lahir di Padang 12 Oktober 1995. Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Menjadi penulis analisa film di Cinemama. Bergiat di Labor Penulisan Kreatif (LPK).

Friday, November 21, 2014

Puisi-Puisi Roby Satria

Aku Adalah Kertas

Aku adalah kertas
Jadikanlah perahu, seperti kekanankmu dulu
Naikkan segala kata di atasnya
Seperti nuh yang membawa segala nyawa
Layarkanlah pada tempat yang tak sependek kalimat
Kemudian di paragraf sana biar aku yang merapungkannya.

Padang, 2014

Layangan

layangangku bisa saja seperti layangan lainnya
terbang di langit yang tak sebesar rumpun bambu.
dekat diulur jauh dijujut
tapi semenjak angin berkepusu binal
ia layangan pandai memintal
dan meliuk liar sebelum akhirnya tersangkut
pada pucuk pinang.

layanganku tak lagi biasa sekarang.
sebab dijangkau tak sampai tangan
menjuluk pun penggalah sayup,
meski berjinjit kaki Marie Taglioni.
namun, malang sungguh malang
ia layangan pandai bersantai dengan ekor melambai.
seakan tak tahu kekanakku tersangkut bersamanya.

Padang, 2014

Mimpi

mimpi tak pernah lelah datang dalam tidurmu.
tak pernah kehabisan cerita.
jika dilukiskan,
daratan dan apa saja yang luas habis jadi kanvas
dan segala yang cair jadi pewarna.
kemudian, apapun yang berujung jadi kuas.
tiada pernah bakal tahu dengan cukup
yang akan ia pajang di balik dengkurmu
yang serupa kucing makan tulang.

setelah kau terjaga, akibat muka ditimpa cahaya
yang mengusir malam lewat fentilasi jendela,
bakal kau dapatkan ingatan tentang mimpi
- mengapa kau tak jadikan aku nyata?

Padang, 2014

Sajak Beruk

atas semua kelapa yang telaj jatuh
aku susun jari yang sepuluh.
"terima kasih" batinku.
pada tali yang mengekang sigapaimu.
dan sesemak terdekat yang kurengkuh
sebagai penghalaumu.
memang menampak taringku
sebab aku tak mau kau panjat kelapa orang.

Padang, 2014

Ke Payakumbuh

antara Lubuak Aluang dan Sicincin
jalan berlubang berkundang-kundang debu
seakan kuda-kuda baru siap berpacu.
menambah sesak akan rindu
yang dibentangkan jarak.

sampai di Silaiang, aku mendaki mengurai kisah
yang berkelindan di muara Pantai Padang.
ingatkah disana, sayang? di bawah tenda
kita secangkang kura-kura
yang menganggap senja sebagai musuh.
menggelikan sekali bukan?

lalu di Koto Baru setelah Padang Panjang,
aku jalan setengah patah
yang muka hilang bertambah kebelakang.
merah mata melulung
dengar cerita bawang merah, seledri, dan bumbu-bumbu saji
yang sunyi ditinggal petani.
sebab tak ada lagi yang bakal marah-marah
saat rumput liar berziarah.

sekarang baru sampai Baso.
jangan takut, aku tak membeli kain seken di Bukittinggi.
sebab benang yang kau sulam
masih melingkar di tunuhku
hangat sekali.
buat mataku seperti ayam gadis bertelur,
lekas aku terpekur,

aku ke Payakumbuh, sayang.
sepanjang jalan tak satu sumpah terlangkah
juga janji yang tercecer menuju kemari,
ke kampungku,
ke air jernih ini,
bakal aku sucikan cinta kita.

Padang, 2014

Kopi

aku ingin tidur lagi ketika kopi jalang
sebab tubuhmu membayang di dalamnya

aku ingin memelukmu saat kopi disesap
sebab tak ada gelendang pada lidah

aku ingin menumpahkannya
kopi tak punya rasa
ingatan yang tak mungkin dijumpa
tapi bagaimana bisa sebab baru saja terhidang

Padang, 2014

Sajak Tali Sepatu

sebelum kau diperadukan
sebagai sebuah tali sepatu
yang memegang erat huku pertalian - ikat mengikat
telah begitu banyak rahasia lubang yang kita lalui
maka sebelum ikat yang membikin kita lekat
aku memilih bunuh diri diinjak tapak
sebab, bukankah ular perlu lapar untuk tidur
atau rayap butuh sayap untuk terbang menjalang kematian

Padang, 2014

Makan Malam

malam seluas meja
bulan menjelma piring
seperti seorang kekasih
kita saling manja
makan malam bersama
saling menyuap cahaya

Padang, 2014

*Terbit di Singgalang, Minggu 23 November 2014

Tuesday, November 18, 2014

Puisi Andesta Herli

Biar ke Lubuk Dalam


ke lubuk dalam bawalah daku, tuan
meski tubuh pecah, meski jantung hilang gairah
meski hilang segala tuah dalam darah.
aku ingin ke lubuk, menyelam untuk tenggelam sampai
ke ceruk paling dasar, lesap sampai ke suntuk paling pangkal.

biar tak terdengar lagi dendang, biar
tak tersentuh lagi pulang
dan hari-hari akan jadi cerita lain dari
si gadih rumah gadang yang senantiasa gamang
—di kamar kepayang, di sumur mambang, di
janjang aku sumbang.

sebab tak ada siapa, bakal menanam dengus di ulu jantung
tak akan dikenang lagi untung badan yang terlanjur murung
siapa bakal pengobat tubuh nan jauh digulung tenung?
sebab tuan serindu hikayat, tempat kisah-kisah
terkenang hikmat,

sebab malu di jantung belum sampai tersemat.

duhai ke lubuk dalam bawalah daku, oi, tuan
sungguh mimpi-mimpiku senantiasa angin menggebubu
di retak tulang paru
dan tuan, jalan pulang dingin dan gemetar bagi badan,
akulah si gadis kasmaran terlupa hulu.

(01/02/2014)





Perihal Kepulangan

mengukur jarak dari simpang ke simpang
meretas ingatan yang dibawa hujan-hujan.

alpa hanya langgam tualang,

merawat rindu di jantung paling hulu
sebagai gairah, tertahan di alir darah.

diam-diam ada yang beku dalam dada
jadi batu, jadi suara yang tabah bagi kami
si tualang merindu tuah.

namun rindu hanyalah setali sumbang di langkah:
ingin berjalan di depan, sekaligus demam akan
tuah di jalan silam.

kepulangan, adalah doa-doa yang tak pandai
menengadahkan tangan.

(Padang, 05/02/2014)




Merawat Rumah

dalam jantungku, sebuah rumah didirikan ibu
dulu kala kecil, hari tak pernah bisa ditebak jalannya
panas berdengkang, hujan tiba-tiba amuk membahana.

“siapa yang tahu untung, siapa tahu pecah di jantung,
meski kau, si hebat tenung!” ibu senantiasa mengingatkan
dengan raut muka tajam, seolah benar sesuatu
sedang mengancam.

sepanjang hari, sepanjang bulan serta di sengkarut tahun
aku merawat rumah itu. menyapu lantai, mengibas debu
di dinding, sesekali menganti daun jendela yang lapuk, atau
patah, entah sebab apa.

hingga aku tumbuh dewasa, kini sedikit tua. musim
telah mapan: hujan jatuh pada waktunya, sebagaimana panas
datang sesuai sangka. namun entah mengapa aku selalu
ingin sering-sering masuk ke rumah itu, sesekali tertidur pulas
di dalamnya.

setiap tahun, aku mendapati tiang-tiangnya berlubang, selalu
ada daun pintu yang rusak atau patah, hingga aku harus terus
bekerja keras memperbaikinya, merawat kenang-kenang
yang tersisa.

dan sesekali jika mumpung, aku memergoki seseorang
mematah dan mencabut kayu-kayu di dindingnya.

(02/02/2014)



Bangkai Pohon Pisang

di tebing basah tepi sungai
aku setia mengeja setiap napas
dalam waktu
menyambang

menunggu tiba masa
sebait kabar tentang asal
tersangkut di akar
dedaun busuk, atau
pada sanggul-sangul lumut
di dasar

hanya menunggu hujan,
agar arus lebih tajam
dan sejenak
tubuhku sampan
melawat jalan

aku menunggu
lagu rumpun datang
memberi nama membubuh mantra
di tubuhku yang rindu gigil hulu

(Kampung Irigasi, 2013)



Jam Empat Petang

jam empat petang dalam kulah
udara mengidap surga
jantung pecah, berserak di sela
bayang fatamorgana

satu jam tiga puluh menit napasku air
dan lumut-lumut kecil di dasar
tempurung kepalaku retak
menyeruak sampai denyut pangkal

ada titik darah pada kepak
kupu-kupu tua merayap di permukaan
darah dalam usus melesap
mengairi anus
elang jantan berkokok di kejauhan

kepada angin kepada mendung setengah
di sudut langit merah
dengusku menguap, memburu di getar
halimun kiriman peneluh negeri jauh

jam empat petang dalam kulah
Tuhan di sebalik dinding rumah
tubuhku sulah
firman-firman tak kunjung sudah

(Padang, Januari 2014)

Tentang Penulis :
Andesta Herli, Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas. Bergiat di Teater Langkah.